Change Your Language

 
Showing posts with label Obat Kimia. Show all posts
Showing posts with label Obat Kimia. Show all posts

MEFINAL 500 MG

0 komentar
KOMPOSISI / KANDUNGAN
Tiap Kapsul Mefinal mengandung 250 mg Asam Mefenamat.
Tiap Kaplet Mefinal mengandung 500 mg Asam Mefenamat.

FARMAKOLOGI (CARA KERJA OBAT)
Mefinal mengandung asam mefenamat, yang merupakan kelompok antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksigenase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi dan antipiretik. Mefinal adalah obat yang dapat mengurangi rasa nyeri, mengurangi radang, dan mempunyai efek menurunkan demam.

INDIKASI / KEGUNAAN
Indikasi Mefinal adalah untuk meredakan nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer / nyeri saat haid, termasuk nyeri karena trauma, nyeri otot dan nyeri sesudah operasi.

KONTRAINDIKASI
Kontraindikasi Mefinal adalah sebagai berikut :
Mefinal jangan diberikan pada pasien yang hipersensitif atau alergi terhadap asam mefenamat.
Penderita yang dengan aspirin mengalami bronkospasme, rinitis alergi, dan urtikaria.
Penderita dengan tukak lambung dan usus.
Penderita dengan gangguan ginjal yang berat.

EFEK SAMPING
Berikut ini efek samping Mefinal yang dapat terjadi :
Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare dan nyeri abdominal.
Gangguan darah / hematologi seperti leukopenia, eosinofilia, trombositopenia, dan agranulositopenia.
Gangguan sistem saraf seperti rasa mengantuk, pusing, penglihatan kabur, dan insomnia.

PERINGATAN DAN PERHATIAN
Mefinal sebaiknya diminum sesudah makan.
Hati-hati penggunaan mefinal pada wanita hamil, dan ibu menyusui.
Keamanan penggunaan Mefinal pada anak-anak di bawah 14 tahun belum diketahui dengan pasti.

INTERAKSI OBAT
Penggunaan Mefinal bersamaan dengan obat antikoagulan oral dapat memperpanjang prothrombin time.

DOSIS DAN ATURAN PAKAI
Dosis Mefinal pada Dewasa dan anak-anak usia > 14 tahun : Dosis awal 500 mg, kemudian dianjurkan 250 mg tiap 6 jam sesuai dengan kebutuhan.

KEMASAN
Mefinal kapsul 250 mg, Kotak, berisi 10 strip @ 10 kapsul.
Mefinal kaplet / tablet, Kotak, berisi 10 strip @ 10 kaplet.

KETERANGAN
HARUS DENGAN RESEP DOKTER.
Simpan pada suhu kamar.
Diproduksi oleh : PT. SANBE FARMA
Read more...

Omeprazole

0 komentar

Komposisi:
Tiap kapsul mengandung :
Omeprazole pellet setara dengan Omeprazole 20 mg

Farmakologi
Omeprazole merupakan antisekresi, turunan benzimidazole, yang bekerja menekan sekresi asam lambung dengan menghambat aktivitas enzim H/K ATPase (pompa proton) pada permukaan kelenjar sel pariental gastrik pada pH<4. Omeprazole yang berikatan dengan proton (H) secara cepat akan diubah menjadi sulfonamida, suatu penghambat proton yang aktif. penggunaan Omeprazole secara oral menghambat sekresi asam lambung basal dan stimulasi pentagastrik.

Indikasi :
  • Pengobatan jangka pendek pada tukak duodenal dan yang tidak responsif terhadap obat-obat antagonis reseptor H-2.
  • Pengobatan jangka pendek tukak lambung.
  • Pengobatan refluks esofagitis erif/ulceratif yang telah didiagnosa melalui endoskopi.
  • Pengobatan jangka lama sindroma zollinger - ellison.
Kontra Indikasi
  • Penderita yang hipersensitif terhadap Omeprazole.
Interaksi Obat
  • Omeprazole dapat memperpanjang eliminasi obat-obat yang dimetabolisme melalui sitokrom P450 di dalam hati yaitu: Diazepam, Fenitoin dan Warfarin. Pemantauan penderita yang juga mendapatkan pengobatan fenitoin atau warfarin.
  • Tidak ditemukan interaksi dengan Propanolol dan Teofilin.
  • Omeprazole mengurangi absorpsi obat-obat yang absorpsinya dipengaruhi oleh pH lambung yaitu; Ketokonazole, ester, Ampisilin, garam besi.
Efek Samping
Omeprazole umumnya dapat ditoleransi dengan baik. pada dosis besar dan penggunaan yang lama kemungkinan dapat menstimulasi pertumbuhan sel ECL (Enterochromaffin-likecells). Pada penggunaan jangka panjang perlu diperhatikan adanya pertumbuhan bakteri yang berlebihan di saluran cerna.

Peringatan dan Perhatian
  • Pada penggunaan jangka panjang Omeprazole perlu diwaspadai efek sustained hypochlorhydria dan hipergastrinemia.
  • Untuk dosis lebih dari 80 mg per hari, dosis harus dibagi dua kali sehari.
  • Omeprazole sebaiknya tidak diberikan selama masa kehamilan dan menyusui kecuali apabila penggunaannya dianggap penting.   
Dosis
Dosis yang dianjurkan : 20 mg atau 40 mg sekali sehari ditelan utuh dengan air.
  • Pada penderita dengan gejala tukak duodenal : pengobatan dan penyembuhan berlangsung dalam waktu 2 minggu. Bagi penderita yang belum sembuh dalam tahap pengobatan awal ini, biasanya memerlukan periode pengobatan 2 minggu.
  • Pada penderita dengan gejala tukak lambung atau refluks esofagitis erosif/ulceratif: pengobatan dan penyembuhan memerlukan waktu 4 minggu bagi penderita yang belum sembuh dibutuhkan sekitar 4 minggu lagi.
  • Pada penderita yang sukar disembuhkan dengan pengobatan lain diperlukan 40 mg sekali sehari dan biasanya kesembuhan dapat tercapai dalam waktu 4 minggu (bagi penderita tukak duodenal) atau 8 minggu (bagi penderita tukak lambung atu refluks esofagitis erosif/ulceratif).
  • Pada penderita sindroma Zollinger Ellison : dosis awal 20 - 160 mg sekali sehari, dosis ini harus disesuaikan untuk masing-masing penderita dan pengobatan sebaiknya hanya diberikan selama diindikasikan secara klinis. Untuk dosis lebih dari 80 mg per hari dosis harus dibagi dua kali sehari. Omeprazole kapsul hendaknya diminum sebelum makan. 
  • Kapsul ini hendaknya jangan dibuka, dikunyah atau dihancurkan tetapi harus ditelan seluruhnya.
  • Pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati; tidak diperlukan dosis khusus.
  • Pasien usia lanjut; tidak diperlukan penyesuaian dosis.
  • Penggunaan pada anak-anak belum ada pengalaman.
Read more...

Penyalahgunaan Deksamethason Sebagai Obat Penambah Nafsu Makan

0 komentar

Deksametason merupakan obat anti inflamasi dan anti alergi yang sangat kuat. Obat ini digunakan sebagai glucocorticoid khususnya; untuk anti inflamasi, pengobatan rheumatik arthritis dan penyakit collagen lainnya,alergi dermatitis, penyakit kulit, penyakit inflamasi pada masa dan kondisi lain dimana terapi glucocorticoid berguna lebih menguntungkan seperti penyakit leukemia tertentu dan lymphomas dan inflamasi pada jaringan lunak dan anemia hemolytica. 

Kurangnya pengetahuan pasien tentang obat deksametason dan dengan mudahnya mendapatkan obat tersebut sehingga mengakibatkan penyalah gunaan obat ini sebagai obat penambah nafsu makan. Tidak tahu dari mana awalnya sehingga banyak orang yang menggunakan deksametason sebagai obat penambah nafsu makan pada saat ini.

Perlu diketahui bahwa,  dexamethasone memiliki efek samping yang sangat kompleks yaitu; Penggunaan obat ini dalam jangka panjang dapat mengakibatkan efek kataboik steroid seperti kehabisan protein, osteoporosis (keropos tulang), penghambatan pertumbuhan untuk anak, menurunnya daya tahan tubuh, moon face dll.

Dengan demikian, gunakanlah obat ini sesuai dengan kebutuhan kita dengan dosis yang tepat sehingga memberikan efek menguntungkan yang sangat besar dengan efek samping yang lebih sedikit. Jika ingin kita menginginkan obat penambah nafsu makan, sebaiknya dipilih alternatif lain yang lebih menguntungkan. Sekarang ini sudah banyak obat-obat Herbal penambah nafsu makan yang memiliki efek samping yang sedikit, dan sebaiknya anda memilih alternatif ini.
Read more...

Indikasi Simvastatin Sebagai Penurun Kolesterol

0 komentar

Komposisi
Tiap tablet salut selaput mengandung simvastatin 10 mg

Farmakologi
Simvastatin merupakan obat yang menurunkan kadar kolesterol (hipolidemik) dan merupakan hasil sintesa dari hasil fermentasi. Aspergillus terreus. Secara invivo simvastatin akan dihidrolisa menjadi metabolit aktif. Mekanisme kerja dari metabolit aktif tersebut adalah dengan cara menghambat kerja 3-Hidroksi-3-metilglutaril koenzim A reduktase (HMG Co-A-reduktase), dimana enzim ini mengkatalisa perubahan HMG Co-A menjadi asam mevalonat yang merupakan langkah awal dari sintesa kolesterol.

Indikasi
  • Terapi dengan “lipid-altering agents” dapat dipertimbangkan penggunaannya pada individu yang mengalami peningkatan resiko “artherosclerosis” vaskuler yang disebabkan oleh hiperkolesterolemia.
  • Terapi dengan “lipid-altering agents” menunjang pada diet ketat, bila respon terhadap diet dan pengobatan non-farmakologi tunggal lainnya tidak memadai.
  •  Penyakit jantung koroner.
Pada penderita dengan penyakit jantung koroner dan hiperkolesterolemia, simvastatin diindikasikan untuk :
  • Mengurangi resiko mortalitas total dengan mengurangi kematian akibat penyakit jantung koroner.
  • Mengurangi resiko infark miokardial non fatal.
  • Mengurangi resiko pada pasien menjalani prosedur revaskularisasi miokardial.
  • Hiperkolesterolemia.Menurunkan kadar kolesterol total dan LDL pada penderita hiperkolesterolemia primer(tipe lla dan llb).
Rekomendasi Umum
Sebelum memulai terapi dengan simvastatin, agar disingkirkan terlebih dahulu penyebab sekunder dari hiperkolesterolemia (seperti diabetes melitus yang tidak terkontrol, hipotiroid, sindrom nefrotik, disproteinemia, penyakit hati obstrukstif, terapi dengan obat lain, alkoholism), dan lakukan pengukuran profil kolesterol total, kolesterol HDL dan trigliserida (TG).

Kontraindikasi
·         Hipersensitif terhadap simvastatin atau komponen obat.
·         Penyakit hati aktif atau peningkatan transaminase serum yang menetap yang tidak jelas penyebabnya.
·         Wanita hamil dan menyusui.

Peringatan dan Perhatian

  •  Selama terapi dengan simvastatin harus dilakukan pemeriksaan kolesterol secara periodik. Pada pasien yang mengalami peningkatan kadar serum transaminase, perhatian khusus berupa pengukuran kadar serum transaminase harus dilakukan jika terjadi peningkatan yang menetap (hingga 3 kali batas normal atas) pengobatan segera dihentikan.
  • Dianjurkan melakukan tes fungsi hati sebelum pengobatan dimulai, 6 dan 12 minggu setelah pengobatan pertama, dan berikutnya secara periodik (misalnya secara semianual).
  • Hati-hati penggunaan pada pasien alkoholism dan / atau yang mempunyai riwayat penyakit hati.
  • Pada penggunaan jangka panjang dianjurkan melakukan tes laboratorium secara periodik tiap 3 bulan untuk menentukan pengobatan selanjutnya.
  •  Terapi dengan simvastatin harus dihentikan sementara atau tidak dilanjukan pada penderita dengan miopati akut dan parah atau pada penderita dengan resiko kegagalan ginjal sekunder karena rabdomiolisis atau terjadi kenaikan “creatinin phosphokinase” (CPK).
  • Penderita agar segera memberitahukan kepada dokter apabila terjadi nyeri otot yang tidak jelas, otot terasa lemas dan lemah.
  •  Simvastatin tidak efektif pada pasien dengan “homozygous familial hiperkolesterlolemia”.
  • Simvastatin tidak diindikasikan dimana hipertrigliseridemia merupakan kelainan utama (misalnya hiperlipidemia tipe I, IV dan V).
  • Keamanan dan efektifitas pada anak-anak dan remaja belum pasti.
Efek Samping
·  Abdominal pain, konstipasi, flatulens, astenia, sakit kepala, miopati, rabdomiolisis. Pada kasus tertentuterjadi angioneurotik edema.
·         Efek samping lain yang pernah dilaporkan pada golongan obat ini:
  1.  Neurologi : disfungsi saraf cranial tertentu, tremor, pusing, vertigo, hilang ingatan, parestesia,    neuropati perifer, kelumpuhan saraf periferal.
  2.  Reaksi hipersensitif : anafilaksis, angioedema, trombositopenia, leukopenia, anemia hemolitik.
  3.   Gastrointestinal :anoreksia, muntah.
  4.  Kulit : alopecia, pruritus.
  5.  Reproduksi : ginekomastia, kehilangan libido, disfungsi ereksi.
  6. Mata : mempercepat katarak, optalmoplegia.

Dosis
Pasien harus melakukan diet pengurangan kolesterol sebelum dan selama pengobatan dengan simvastatin.

  • Dosis awal yang dianjurkan 5-10 mg sehari sebagai dosis tunggal pada malam hari. Dosis awal untuk pasien dengan hiperkolesterolemia ringan sampai sedang 5 mg sehari. Pengaturan dosis dilakukan dengan interval tidak kurang dari 4 minggu sampai maksimum 40 mg sehari sebagai dosis tunggal  malam hari. Lakukan pengukuran kadar lipid dengan interval tidak kurang dari 4 minggu dan dosis disesuaikan dengan respon penderita.
  • Pasien yang diobati dengan immunosupresan bersama HMG Co-A reductase inhibitor, agar diberikan dosis simvastatin terendah yang dianjurkan.
  • Bila kadar kolesterol LDL turun dibawah 75 mg/dl (1,94 mmol/l) atau kadar total kolesterol plasma turun dibawah 140 mg/dl (3,6 mmol/l) maka perlu dipertimbangkan pengurangan dosis simvastatin.
  • Penderita gangguan fungsi ginjal: tidak diperlukan penyesuaian dosis, karena simvastatin tidak dieksresikan melalui ginjal secara bermakna. Walaupun demikian, hati-hati pemberian pada insufisiensi ginjal parah, dosis awal 5 mg sehari dan terus dipantau ketat.
  • Terapi bersama obat lain : simvastatin efektif diberikan dalam bentuk tunggal atau bersamaan dengan “bile-acid sequestrants”.
Interaksi Obat

  • Pemakaian bersama-sama dengan imunosupresan, itrakonazol, gemfibrozil, niasin dan eritromisin dapat menyebabkan peningkatan pada gangguan otot skelet (rabdomiolisis dan miopati).
  •  Dengan antikoagulan kumarin dapat memperpanjang waktu protrombin.
  •  Antipirin, propanolol, digoksin.
Read more...

TETES TELINGA ERLAMYCETIN CHORAMPHENICOL

0 komentar

Komposisi
ERLAMYCETIN tetes telinga mengandung Chloramphenicol base 1% dalam larutan tetes telinga.

Cara Kerja Obat
Chloramphenicol adalah antibiotika spektrum luas, bekerja sebagai bakteriostatik terhadap beberapa spesies, dan pada keadaan tertentu bekerja sebagaibakterisida.

Indikasi
Infeksi superfisial pada telinga luar oleh bakteri gram positif atau gram negatif yang peka terhadap chloramphenicol.

Kontraindikasi
1.      Bagi penderita yang sensitif terhadap Chloramphenicol.
2.      Perforasi membran timpani.

Cara Pemakaian
Teteskan kedalam lubang telinga 2 – 3 tetes, 3 kali sehari. Atau menurut petunjuk dokter.

Kemasan
Botol @ 10 ml.

Peringatan dan Perhatian
1.      Hindarkan penggunaan jangka panjang karena dapat merangsang hipersensitivitas  dari superinfeksi oleh kuman yang resisten.
2.      Obat tetes ini hnya bermanfaat untuk infeksi yang sangat superfisial. Infeksi yang dalam memerlukan terapi sistemik.

Efek Samping
Iritasi lokal seperti gatal, rasa panas, dermatitis vesikuler dan mokulopapular.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER
Read more...

INERSON® Salep Preparat Kortikosteroid Untuk Kulit

0 komentar

Komposisi
Tiap gram salep mengandung
Desoximetasone         2,5 mg

Khasiat
INERSON® mengandung Desoximetasone, suatu kortikosteroid yang mempunyai khasiat sebagai antiflogistik, antipuritik.

Indikasi
Berbagai macam eksema, dermatitis dan psoriasis.

Kontraindikasi
1.      Penderita yang hipersensitif terhadap Desoximetasone.
2.      Reaksi kulit terhadap vaksinasi, T.B.C kulit.
3.      Penyakit kulit karena virus

Efek Samping
Pada pengobatan jangka panjang dengan preparat yang mengandung kortikosteroid, dapat timbul gejala – gejala hipopigmentasi, atropi kulit dan stria.
Kadangkala juga terjadi iritasi kulit seperti rasa gatal dan rasa panas.

Peringatan Dan Perhatian
1.      Cegah penggunaan pada mata
2.      Hindari pemakaian yang luas ata lama pada kehamilan.
3.      Bila terjadi reaksi iritasi, hentikan pengobatannya.
4.      Pengobatan pada daerah kulit yang luas dan/atau jika digunakan dalam waktu yang lama, dapat timbul efek sistemik yang disebabkan oleh penyerapan kortikosteroid melalui kulit.

Aturan Pakai
Oleskan tipis – tipis, sehari 2-3 kali pada tempat yang gatal, lalu gosok secara merata.

Kemasan
Tube berisi 15 g netto
Reg. No. : DKL8817605230A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

SIMPAN DIBAWAH SUHU 300 C
TERLINDUNG DARI CAHAYA
JANGAN DISIMPAN DALAM LEMARI PEMBEKU

Diproduksi oleh:
PT. Interbat
Jl. H.R.M Mangundiprojo no.1
Buduran, Sidoarjo-61252
Jawa Timur, Indonesia
Read more...

INERSON® Ointment

0 komentar
Composition
Each gram ointment contains :
Desoximetasone                      2.5 mg
Actions
INERSON® contains Desoximetasone, a corticosteroid with antiphlogistic, antipruritic effects.
Indications
Various types of eczema, dermatitis and psoriasis.
Contraindications
  • Patients hypersensitive to Desoximetasone.
  • Skin reaction due to vaccinations, dermal tuberculous.
  • Skin infections caused by virus.
Adverse Reactions
Prolonged use of corticosteroid preparation may cause hypopigmentation, dermal atrophy and striae.
In rare cases, skin irritation may occur such as itching and burning.
Precautions/Warning
1.      Not recommended for opthalmic use.
2.      Do not use pregnant women in large amounts or for prolonged periods.
3.      If irritation develops, topical corticosteroid should be discontinued.
4.   If therapy is applied to large areas of the body and for long periods of time, systemic effects of the corticosteroid may occur due to skin absorption.
Dosage And Administrations
A thin layer should be applied to cover the affected area 2-3 times daily.
Presentation
Box contains 1 tube of net 15 g
Reg. No.:DKL8817605230A1

ON MEDICAL PRESCRIPTION ONLY
STORE BELOW 300 C
PROTECT FROM LIGHT
DO NOT FREEZE

Manufactured by:
PT. Interbat
Jl. H.R.M. Mangudiprojo no. 1
Buduran, Sidoarjo-61252
East Java, Indonesia
Read more...

Farmoten® Captopril Tablet

0 komentar
Composition
Farmoten®12,5
Each tablet contains :
Captopril 12, 5 mg
Farmoten® 25
Each tablet contains :
Captopril 12, 5 mg
Farmoten® 50
Each tablet contains :
Captopril 12, 5 mg

Pharmacology
Farmoten® acts on renin angiotensin by inhibiting the conversion of relatively non-active angiotensin I to active angiotensin II (angiotensin-converting enzyme inhibitor). Farmoten®
 Is an antihypertensive agent which is also, effective for the treatment of heart failure. The combination with thiazide gives an additive lowering of blood pressure, whereas the combination with β-blocker has less additive effect.

Indications
  • Treatment of moderate to severe to severe hypertension which does not respond to other combination therapy. Farmoten® can be used alone and in combination with other antihypertensive agent, eg thiazide.
  •  For treatment of heart failure in patients who have not responded adequately to treatment with diuretic and digitalis, in this therapy combination of Farmoten® with diretic and digitalis is commonly prescribe.


Dosage And Administration
Farmoten® should be given 1 hr before meals.
Adults
  • Hypertension initial dose 12,5-25 mg 2-3 times a day. If lowering of blood pressure is not ssatifactory in 2 weeks after treatment, dose can be increased up to 50 mg 2-3 times a day.
  •  Mild to moderate hypertension : dosage should not be more than 150 mg/day.
  • Severe hypertension : maximum permissible dose is up to 450 mg/day.
  • Heart failure : initial dose is usually 25 mg 3 times a day, but it is advisable to commence with 12,5 mg 3 times a day.

Warning And Precautions
  • Patients with signs of prior renal disorder may develop proteinuria and hyperkalaemia.
  • Combination with potassium-sparing diuretics must be used with caution.
  • Caution should be exercised when prescribing Captopril to patients with coronary heart deasese.
  • Caution should be taken when administered to patients with aortic stenosis or outflow tract obstruction.
  • Rotine blood test is required at the beginning of therapy as neutropenia may develop.
  • Use in pregnancy & lactation : Captopril can cause fetal and neonatal morbidity and mortality when administered to pregnant women. If patients become pregnant during therapy with captopril, treatment must be discontined immediately. Administration during the 2nd or 3rd trimesters of pregnancy has been associated with fetal and nonatal injury including hypotension, neonatal skull apoplexy, anuria, reversible and irreversible renal failure and death.
  • Oligohydramnios, craniofacial deformity, hypoplastic lung development, premature birth, intrauterine growth retardation and patent ductus arterious have been reported.
  • Babies born from mothers who received ACE inhibitor therapy during pregnancy must be under intensive obserbation because of the possibility of hypotension, oligouria and hyperkalaemia. Caution should be observed in nursing mothers.
  • Use in children caution should be exercised when administered to children since the safe use and efficacy of captopril for these patient has not been established yet.


Side Effect
  • Maculopapular rash often with pruritus and fever has been reported in about 10 % of patients receiving captopril.
  • These side effects are usually mild and diapear in a few days after reduction of capropril dosage.
  • Transient taste alteration is found in 70% of patients receiving captopril and will disappear without discontinuing captopril therapy.
  • Proteinuria developed in 0,5% of patients receiving > 1 g of captopril daily and in 1,2% of patients who had evidence of prior renal disease. Proteinuria subsided eventhough therapy was not interrupted. Proteinuria usually occurred by the 8th month of therapy, therefore it is advisable to have urinay protein checked prior to treatment and periodically thereafter for the first 8 months of therapy.
  • Mild potassium retention may develop particulary in patients with renal disorder: therefore, if combination therapy with potassium-retaining diuretics is required, it must be administered cautiously.
  •  Neutropenia and agranulocytosis;  gastrointestinal disturbances, eg nausea and vomiting.
  • Elevation of BUN (blood urea nitrogen) and serum creatine; paresthesias, serum disorder, bronchospasm, lymphadenopathy, cough.


Contraindications
Patients hypersensitive to captopril

Drug Interactions
  • Combination therapy with diuretics can produce hypotension within the first 1-3 hrs after initial dose. This hypotensive effect can be minimised by either discontining the diuretic or increasing the salt intake approximately 1 week prior to initation of treatment with captopril.
  • This transient hypotensive response may not occur in the subsequent doses and diuretics can be administered if necessary.
  • Concomitant use of captopril with “potassium-increaseing agents” (salt/potassium-substitutes, potassium-sparing agent), eg spionolactone, triaterene and amiloride may cause the development of hyperkalaemia.
  • Concomitant administration with renin-releasing agent or other antihypertensivedrugs may produce additive hypotensive effect.
  • Concomitant use with vasodilating agents may produce additive hypotensive effect.
  • Caution should be taken when administered together with sympathomimetic agents since blood pressure may be increased. Hypotensive effects is diminished by indomethacin, salicylates and NSAIDS.


Storage
Store below 300C

Presentation
Farmoten®12.5    : Box of 10 strips @ 10 tablets. Reg. No. DKL9131501810B1
Farmoten®25       : Box of 10 strips @ 10 tablets. Reg. No. DKL9131501810A1

ON MEDICAL PRESCRIPTION ONLY

Manufactured by
PT. PRATAPA NIRMALA
Tanggerang – Indonesia
FAHRENHEIT
Read more...

BETASON – N KRIM

0 komentar
Komposisi
Tiap gram krim mengandung :
Betametason – 17 – valerat     1 mg
Neomisin sulfat                      5 mg

Sifat – sifat
Betametason adalah suatu 9-fluorokortikosteroid, yaitu suatu senyawa dari golongan kortikosteroid yang paling efektif untuk pengobatan kulit.
Neomisin dikenal sebagai suatu antibiotik yang aktif terhadap sejumlah besar bakteri yang umumnya menyertai radang kulit.

Indikasi
Betason – N krim sangat berguna untuk mengobati penyakit kulit yang menimbulkan radang akut maupun sub-akut seperti :
Eksema
Eksema infatil
Dermatitis atopik
Dermatitis herpetiformia
Dermatitis kontak
Alergi, misalnya peka terhadap bubuk sabun atau zat – zat kimia lain
Dermatitis venenata
“seborrhoeic dermatitis”
Neurodermatitis
Psoriasis
Infertigo
Gangguan – gangguan yang menyertai penyakit kulit akan segera lenyap setelah pengobatan dengan Betason-N krim dimulai. Hal ini disebabkan karena efek anti radang yang kuat dari obat tersebut. Adanya neomisin dalam Betason-N krim menjamin penyembuhank infeksi skunder yang umumnya menyertai radang – radang kulit.

Cara pemakaian
Menurut petunjuk dokter, umumnya:
3 – 4 kali sehari dioleskan pada bagian kulit yang sakit

Perhatian
Betason-N krim tidak ditujukan bagi penderita tuberkulosis kulit
Betason-N krim tidak boleh digunakan pada mata atau pada kulit yang berdekatan dengan mata.
Seperti halnya krim dengan kortikosteroid lain yang zat berkhasiatnya mudah diresorpsi melalui kulit, bagi penderita yang harus menjalankan pengobatan jangka panjang supaya diperhatikan efek – efek sistemik dari kortikosteroid yang sangat kuat ini.

Kemasan :
Tube @ 5 gram (No. Reg : DKL.7212424629.A.1)
Simpan ditempat yang terlindung dari cahaya
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
PT. Kimia Farma

Iso 9001 : 2008
Read more...

ERLAMYCETIN CHORAMPHENICOL SALEP MATA

0 komentar

ERLAMYCETIN CHORAMPHENICOL SALEP MATA
Indikasi
Blepharitis, Catarrhae, Conjunctivitis, traumatic keralitis, trachoma, ulcerative keratitis.

Komposisi
Tiap gram salep mata ERLAMYCETIN mengandung chloramphenicol base 1% dalam basis salep mata yang sesuai.

Cara Kerja Obat
Chloramphenicol adalah antibiotika spektrum luas, bersifat bakteriostatika terhadap beberapa spesies dan pada keadaan tertentu bekerja sebagai bakterisida. Chloramphenicol menghambat sintesa protein bakteri dengan cara mengganggu transfer asam amino.

Kontraindikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap Chloramphenicol.

Aturan Pakai
Oleskan pada mata yang sakit 3 – 4 kali sehari selama 10 sampai 15 hari. Atau menurut petunjuk dokter.

Kemasan
Tube @ 3,5 g

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu dibawah 30 derajat celcius, terlindung dari cahaya.

Harus dengan resep dokter
PT ERELA
Semarang – Indonesia
0504.1701/MO1-02
Read more...

Indikasi Furosemide

0 komentar


Indikasi


Furosemida efektif untuk pengobatan berbagai edema seperti:
Edema karena gangguan jantung.
Edema yang berhubungan dengan ganguan ginjal dan sirosis hati.
Supportive measures pada edema otak.
Edema yang disebabkan luka bakar.
Untuk pengobatan hipertensi ringan dan sedang.
Pendukung diuresis yang dipaksakan pada keracunan.

Komposisi


Tiap tablet mengandung furosemida 40 mg

Tiap ml injeksi mengandung furosemida 10 mg

Cara Kerja Obat
Furosemida adalah suatu derivat asam antranilat yang efektif sebagai diuretik. Mekanisme kerja furosemida adalah menghambat penyerapan kembali natrium oleh sel tubuli ginjal.
Furosemida meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, kalium dan tidak mempengaruhi tekanan darah yang normal.
Dosis
Tablet
Edema dan hipertensi pada orang dewasa dan anak – anak :
Dewasa :
sehari 1 – 2 kali, 1 – 2 tablet.
Dosis maksimum adalah 5 tablet sehari.
Dosis pemeliharaan adalah 1 tablet selang 1 hari.
Anak – anak:
Sehari 1 – 3 mg per kg bb/hari, maksimum 40 mg/hari.
Injeksi
Dewasa atau > dari 15 tahun  : dosis awal : 20 – 40 mg i.v. atau i.m.
Bila hasilnya belum memuaskan, dosis dapat ditingkatkan 20 mg tiap interval waktu 2 jam sampai diperoleh hasil yang memuaskan.
Dosis individual : 20 mg, 1 - 2 kali sehari.
Edema paru – paru akut
Dosis awal : 40 mg i.v.
Bila diperlukan dapat diberikan dosis lanjutan 20 – 40 mg setelah 20 menit.
Forced diuresis (diuresis yang dipaksakan)
20 – 40 mg furosemida diberikan sebagai tambahan dalam infus elektrolit.
Selanjutnya tergantung pada eliminasi urin, termasuk penggantian cairan dan elektrolit yang hilang.
Pada keracunan karena asam atau basa, kecepatan eliminasi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan keasaman atau kebasaan urin.
Bayi dan Anak – anak < 15 tahun
Pemakaian parenteral hanya diberikan pada kondisi yang mengancam jiwa.
i.v. atau i.m. : sehari 1 mg/kg bb, maksimum 20 mg sehari.
Selanjutnya terapi parenteral harus secepatnya diganti secara oral.

Peringatan dan Perhatian
Pemberian furosemida pada pasien diabetes melitus, gula darah dan urin harus diperiksa secara teratur.
Pemberian perlu pengawasan ketat dan dosis harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Dianjurkan untuk memulai dosis kecil.
Perlu dilakukan pemeriksaan berkala terhadap susunan elektrolit untuk mengetahui kemungkinan  terjadinya ketidakseimbangan.
Pasien diharuskan melapor bila terjadi gejala penurunan level serum kalium (diare, muntah, anoreksia).
Penderita yang diketahui sensitif terhadap sulfonamida dapat menunjukkan reaksi alergi dengan furosemida.
Hindari penggunaan pada penderita edema paru – paru dan tekanan darah menurun sebagai akibat dari infark miokard, diuresis berlebih karena dapat menimbulkan shock.

Efek Samping
Efek samping jarang terjadi dan relatif ringan seperti : mual, muntah, diare, ruam kulit, pruritus dan penglihatan kabr, pemakaian furosemida dengan dosis tinggi atau pemberian dengan jangka waktu lama dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan elektrolit.
Hiperglikemia.
Reaksi dermatologik seperti : urtikaria dan eritema multiforma.
Gangguan hematologik seperti : agranulositosis, anemia, trombositopenia.

Kontraindikasi
Pasien dengan gangguan defisiensi kalium, glomerolunefritis akut, insufisiensi ginjal akut, wanita hamil dan pasien yang hipersensitif terhadap furosemida.
Anuria.
Ibu menyusui.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER
Read more...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

 
Copyright © 2013. Medica Farma - All Rights Reserved